BeritaRemaja.Com - Pernahkah anda merasa terbang ke titik tertinggi sebelum akhirnya dihempaskan ke titik terendah? Jika belum, mungkin anda akan segera merasakannya sesaat setelah anda bergelut dengan berbagai promosi tentang sebuah film yang konon katanya akan dinobatkan sebagai film paling ditunggu-tunggu sepanjang tahun 2012.
Adalah
5 cm, sebuah film yang diadaptasi dari salah satu karya novelis muda Indonesia, Donny Dhirgantara. Fakta bahwa 5CM merupakan film yang terkemas secara apik memang tidak dapat dipungkiri. Hal itu mungkin karena pemilihan tema yang sederhana namun mengena, jika dibandingkan dengan film-film lain yang lebih condong ke arah vulgarisme. 5CM laksana savana bagi kehausan para penikmat film Indonesia di tangah ketandusan mutu dalam berbagai genre yang beredar dipasaran. Mahameru yang dikenal ganas, tak bersahabat, juga dinilai memerankan perannya sebagai penarik minat khalayak. Keindahan alam, nilai-nilai perjuangan, edukasi-edukasi yang terangkum bersama puncak tertinggi sejawa tersebut menjadi twist lainnya yang juga menimbulkan euforia.
Bahasa yang digunakan Donny dalam merepresentasikan ide tentang persahabatan memang sarat akan pakem-pakem dalam berseni, wajar apabila kemudian para pembaca semakin tidak sabar menunggu format multi-dimensi dari apa telah mempesona nalarnya. Beberapa Thrailer yang dirilis oleh pihak soraya Intercine menciptakan semacam stimulan tersendiri terhadap keindahan alam Gunung Semeru.
Ekspektasi yang sudah sedemikian tinggi, sayangnya harus hancur seiring dengan pemutaran 5CM yang dilakukan serentak di seluruh bioskop di Indonesia. Bagaimana tidak, jika dalam novelnya Donny Dhirgantoro dinilai sangat mampu merealisasikan khayalan terliar dalam bentuk kata, maka dalam film, ia yang juga berperan sebagai penulis naskah dinilai gagal menyampaikan nilai-nilai keindahan tentang khayalannya. Untuk itulah BeritaRemaja.Com bermaksud untuk membagi artikel tentang Review Film 5cm :
Kisah berawal dari sekelompok remaja ibu kota beranggotakan Genta, Arial, Ian, Riani dan Zafran.yang sudah bertahun-tahun menjalin persahabatan. Hubungan yang terjalin kemudian berkembang ke arah yang justru terkesan saling mengekang. Mereka terlalu banyak menghabiskan waktu bersama sehingga mereka lupa bahwa ada sesuatu diluar persahabatan mereka yang harus mereka capai. Kejenuhan tersebut menghasilkan sebuah keputusan, bahwa selama tiga bulan ke depan mereka tidak akan saling berkomunikasi. Selama tiga bulan tersebut mereka harus menjalani kehidupan mereka sendiri.
Genta (Fedi Nuril) sebagai salah satu tokoh sentral dalam 5CM, merencanakan sebuah petualangan yang sangat mendebarkan untuk merayakan kembalinya mereka bersama. Dan ternyata, selebrasi tersebut dilakukan di Gunung Semeru, dimana genta dan kelima sahabatnya akan mendaki hingga ke puncak tepat di hari kemerdekaan Indonesia.
Berbagai petualangan mendebarkan menghiasi perjalanan mereka. Dan ternyata, perjalanan tersebut bukan melulu tentang perayaan kembalinya mereka bersama, tetapi tentang hati. Perjalanan hati yang menyadarkan mereka semua bahwa ada makna tersembunyi dibalik persahabatan yang telah terjalin sekian tahun lamanya. Banyak cinta yang justru bangkit di titik nadir perjalanana mereka. Perjalanan berakhir tepat pada upacara pengibaran bendera yang dilakukan oleh seluruh pendaki di puncak semeru, dengan Genta dkk sebagai pengibar bendera.
Menarik. Amat sangat menarik. Rizal Mantovani sebagai sutradara 5CM dinilai berhasil menyuguhkan sebuah tontonan yang sarat akan nilai, perjuangan, persahabatan juga cinta. Jika kepuasan hanya dinilai dari segi cerita dan banyolan ala remaja ibukota yang tersebar di hampir seluruh adegan, film ini memang sukses. Tetapi nyatanya, ada faktor-faktor lain yang justru meredupkan gaung film yang sudah mulai tayang sejak tanggal 12-12-12 ini.
Genta adalah sosok pendaki tangguh berpengalaman. Jiwa petualangan mengalir terlalu deras di nadinya, sehingga rencana terbesarnya-pun berkaitan dengan dunia pendakian. Dari sini-lah kejanggalan bermula. Mungkinkah seorang Genta yang begitu menyayangi sahabatnya, akan memutuskan selebrasi sembrono di tempat yang termasyur akan keganasannya? Semeru bukan medan sederhana yang sanggup dilalui oleh sahabat-sahabat Genta, yang notabene tidak memiliki pengalaman pendakian apapun. Bayangkan sosok Iyan, Riani bahkan Arinda dilepas ke medan seberat itu.
Dualisme mematikan dalam sosok Genta bukan satu-satunya kejanggalan dalam 5CM. Kejanggalan berikutnya terjadi pada visualisai pertemuan mereka di Stasiun Senen. Sampai ketika mereka menginjakan kaki di Semeru, mereka masih bertanya-tanya kemana Genta aka menbawa pergi. Persahabatan yang bukan lagi terjadi dalam hitungan tahun, seharusnya mampu mengikis ketidak-tahua tersebut. Penulis memang tidak menggambarkan visualisasi eksplisit tentang kegemaran pendakian Genta, tetapi seharusnya Ia lebih teliti mengaitkan keterkaitan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya.
Yang terparah justru terjadi di bagian akhir 5CM, kejanggalan terburuk yang dinilai melanggar norma dan nilai yang berkembang di dunia pendakian. Pendakian merupakan olah-raga ekstrem yang mempertaruhkan nyawa, ada beberapa peraturan lisan maupun tulisan yang berkaitan dengan dunia pendakian. Salah satunya adalah klasifikasi gunung, baik menurut Sierra Club maupun Yosemite Decimal System ada beberapa medan yang tidak boleh dilalui orang awam karena keganasan medannya. Genta dkk menabrak peraturan tersebut. dan muncul sebagai pahlawan yang mengibarkan sang saka merah putih di Puncak tertinggi sejawa. Padahal logikanya, pengibaran bendera tepat pada hari kemerdekaan Indonesia merupakan moment paling penting bagi seluruh pendaki. Logiskah jika 5CM secara over dramatization mendeskripsikan Genta sebagai tim alpha yang diberi mandat dalam pengibaran.
Ending yang dinanti-nanti memang terasa begitu mengharukan, begitu menggugah jiwa-jiwa muda ditengah krisis nasionalisme seperti saat ini. Dan terlepas dari beberapa kejanggalan tentang genta dan para sahabatnya, film ini memang diciptakan untuk menghibur. Tawa seolah dirubah menjadi jembatan nilai kepada para penikmat. Rasa-rasanya beberapa twist memang diciptakan untuk menghibur penonton.
Demikianlah Review Film 5cm. Apapun yang tertulis di atas, bukan dimaksudkan untuk mennggeneralisasikan pemikiran kita sebagai makhluk kreatif. Hanya mencoba menyebarkan ide kritis tentang apa yang sedang berkembang disekitar kita. Semoga bermanfaat.