BeritaRemaja.Com - Eksistensi perbedaan pada khakikatnya adalah sebuah produk dari perkembangbiakan sejarah. Dalam penciptaannya, Tuhan menganugrasi sebutir kilau pada diri manusia yang diberi nama 'akal'. Manusia menggunakan gemerlip akal untuk menciptakan sebuah sistem sosial dimana hanya ia dan dunia sosialnya yang berperan dalam dinamika kehidupan. Menghasilkan sebuah pola pikir, logika serta irritabilitas terhadap apa yang sedang menerpanya. Keadaan inilah yang kemudian menghasilkan sebuah perbedaan. Benturan antara ribuan logika menciptakan sebuah sekat anatara masing-masing pemikiran, sekat terselubung yang sering kita sebut mahzab. Perkembangan zaman menghasilkan bayi-bayi baru dari reproduksi yang dilakukan beberapa mahzab secara bersamaan. Akhirnya perbedaan tak dapat terelakan lagi.
Tuhan menciptakan perbedaan bukan untuk menjadi jurang pemisah antara indifidu bebas yang diciptakannya. Individu-individu berakal yang seringkali men'GENERALISASIKAN' sistem berfikir. Menolak perbedaan semata-mata karena stigma negative yang berpendapat bahwa perbedaan ialah kesesatan. Hal ini nampak jelas dalam dunia religi. Kelompok orang yang menyembah Tuhan dengan cara yang belum mereka kenal, tidak familier di telinga mereka, harus segera dibumi-hanguskan, diluluh-lantakan. Cara-cara baru acapkali diinterpretasikan sebagai ajaran baru atau penyimpangan ajaran yang sudah kokoh berdiri dalam sistem sosial, sehingga terciptalah sebuah kekakuan yang mengahruskan semua sama, tanpa perbedaan.
Berikut ini adalah
Cerpen Tragedi yang menceritakan amarah seseorang yang merasa terdzolimi oleh pihak-pihak penguasa. Tergadaikan kebebasannya hanya karena perbedaan yang dianutnya.
AKU DAN BARA
Oleh Gyan Pramesty
Angin sore membawa gemerisik dedaunan, mengantarkannya kepada lamunan panjang tentang masa depan. Ia terpejam, kelopaknya yang tertutup berusaha membendung gelombang yang akan menelannya. Karena baginya, masa depan bukan melulu tentang hari esok yang harus ditaklukan, bukan tentang ornamen-ornamen yang dirapalkan rasi bintangnya, melainkan tentang Tuhan dan bagaimana meraih-Nya.
~0~0~
“ kamana, Teh?” suara lembut Lilis menghentikan langkahnya.
“ shalat, Lis. Rani ntos shalat.” Selaksa kepedihan mengiris nuraninya ketika kata “shalat” terlontar dari bibirnya yang masih berdarah.
“ muhun, Teh. Ntos.”
Di pelatran, Angin sore yang kembali menerpa wajahnya, membawa pesan kebangkitan yang enggan dijawabnya. Kakinya melangkah gontai, menuju padasan tua yang membasahi masa kanak-kanaknya dengan kesucian wudlu’. Pembasuhan yang menentramkan itu berlangsung khidmat, meluruhkan semua kepedihan yang masih menggelayuti kalbunya. Kembali ia, ke dalam lengkung kamarnya yang seakan meredam hiruk-pikuk semesta, dengan sepasang kain putih, dilafalkannya keagungan Sang Empunya jagat. Tepekur dalam diam.
“ Tuhan . . . ,” hanya sebaris kata itu yang mampu diucapkannya dalam kelirihan.
***
Kobaran radiasi membakar rumput yang mengering di pelataran rumah bapaknya, menyuguhkan keresahan, membawanya kepada kenangan membara, keganasan jago merah yang meluluh-lantakkan istana putihnya, setahun silam. Tiga nyawa menjadi memoar lukanya yang kian menganga, terenggut oleh kebiadaban anti toleransi.
***
Sesosok tubuh tampak tengah menikmati semilir angin gunung, yang membuai helain benang penutup tubuhnya. Terduduk disebuah kursi bambu.
“ tetehmu kemana, Lis?” tanya nya.
“ dikamarnya, Pah. Lagi wiridan.” Jawab sang anak yang tengah disibukkan oleh tumpukan daun suji penyambung hidupnya.
“ hhhh...” lelaki tua berkopiah hitam itu menghela nafas panjang. Batinnya berkelana menembus bayang-bayang merah sang surya, mengalahkan ruang, menundukan waktu, membawanya kepada warna merah serupa, yang berkobar setahun silam.
Serdadu-serdadu bersorban putih, menggempur dan memporak-porandakan gubug kecil tempat anak, menantu dan kedua cucunya bernaung. Bermandikan kalimat takbir, mereka renggut jiwa-jiwa suci yang sedang dalam penyembahan. Percikan api dari obor-obor yang mereka genggam menjilat seluruh penghijab yang terbuat dari kayu, si jago merah mengamuk. Merenggut nyawa menantu dan kedua cucunya.
Orang-orang besar yang berkoar dibalik podium keperintahan telah lalai, melupakan tugasnya untuk melindungi hak-hak horizontal mereka.
“ karunya si Teteh pah, jadinya diem terus.” Ucap Lilis. Daun suji yang tengah dicucinya mengeluarkan gemerisik bunyi asing.
Ya. Para penbunuh bukan hanya merenggut hak hidup menantu dan kedua cucunya, tetapi merenggut juga hak anak sulungnya untuk mengecap kebahagiaan. Mengubahnya menjadi mayat hidup yang berjalan tanpa jiwa.
Doa-doa yang disuguhkan sebelum matanya terpejam, menjadi sakisi betap ia marah, betapa ia menangis, betapa ia tak tahu harus kemana melabuhkan amarah dan airmatanya.
“ hhhhh...” helaan nafasnya yang kedua terdengar panjang dang berat. “ duhh gusti..”
Semilir angin menembus celah kecil dalam kamar Lasmi. Sepotong kelirihan dalam kalimat ayahnya mengguratkan luka lain diantara hamparan luka hatinya.
***
Malam ini, di tengah temaramnya dewi malam, ia kembali menyaru jadi hantu. Langgam keputus-asaan mengalun bersama langkahnya. Gontai. Penuh luka. Menggurat semburat merah dalam tekadnya.
Suara-suara yang membahana memenuhi celah hatinya, membimbingnya melalui jalan terjal yang harus segera terlalui. Laksana bahtera yang terbuat dari serpihan lukanya, ia melaju. Menembus gelombang fana kehitaman yang menyelubunginya, menerjang.
Ia, wanita itu, berjalan gontai. Menggenggam cairan berbau anyir, dan sebatang obor yang menyala-nyala ganas. Lengan kecilnya yang menggigil diterpa angin malam, tak gentar menyebarkan cairan berbau anyir tersebut. tumpah membasahi tanah.
Bau anyir yang menyerbak, membentuk garis kasat mata, membentengi sebuah bangunan tak berpagar yang lampunya kian temaram. Dengan hasrat menggebu, dilemparkan obor itu.
Tuhan, biarlah merah tertebus merah. Darah yang tercucur setahun silam, akan kembali mengucur. Mengalir deras, membentuk segara kemerahan penyembuh lukaku.
Keadilan tak menjamah kehidupanku, biarkan kuciptakan keadilanku sendiri. Para orang besar masih enggan berlutut di pusara suamiku yang kian menghitam, para anti toleransi terus berkoar tentang kesesatan. Menjustifikasi Tuhan kami sebagai Tuhan Palsu. Armada-armada penghancurannya semakin menggilas kaum minoritas, seperti aku, dan seluruh jiwa yang menyaksikan pemusnahan setahun silam.
Resah yang selalu terpancar dari gurat-gurat keletihan ayahku, akan segera terhapuskan. Kegigihan Lilis berburu senyumku, akan segera membuahkan hasil.
Wahai sang izrail,,, ambil jiwaku dan sampaikan kepada sang Malik penyerahanku. Seretlah aku ke dalam neraka yang dijaganya.
Langkahnya kembali mengalun indah. Membentuk jejak kemantapan di atas hamparan kepuasannya. Di balik punggungnya, api mulai berkobar. Melahap jiwa-jiwa tak berdaya, yang masih tergeletak terbuai mimpi. Merah dan kian memerah. Warna serupa yang ditangkap inderanya setahun silam.
Lengking jeritan membelah malam, menghentikan langkahnya untuk sepersekian detik. Memilukan. Menrefleksikan rasa sakit yang teramat sangat.
Sakit ku setahun silam. Dukaku setahun silam. Ku tuntaskan sudah. Bara yang terus membayangiku, kukembalikan kepada bara yang akan membayangi kematianmu. Wahai anti toleransi.
Kembali ia pada jejaknya, membimbing kepuasannya menuju istana minoritas yang akan kembali ia dirikan.
***