Ia terbaring. Tubuhnya beku, melintang membentuk batas ketidak-sadaran yang ambigu. Matanya terkatup rapat. Barisan tulang lengkung yang terhampar di dadanya bergerak-gerak, menciptakan tarian hembusan yang sangat kentara. Hanya itu vitalitas yang mampu ku interpretasikan dari tubuhnya yang laksana fana.
Di sampingnya aku terbaring. Dengan kebekuan yang sama. Riak-riak memori mengisi benakku. Menciptakan sebuah pergumulan yang mempertaruhkan hidup dan matinya asaku. Selaksa resital kepiluan yang selalu mengiringi inci-demi-inci langkah yang ku jejakkan di atas tanah merah yang kian membara. Tentang aku, tentang dia yang terbujur kaku di sampingku, tentang tahun-tahun kelam yang menerjang bahtera kelabu kami.
Di luar sana, bumi tampak tengah berkabung, menangisi kepergian sang pelebur gulita, serta mengutuk gemuruh kepekatan yang melahap hingga tandas sinar sang dewi penentram kelam. Badai mengamuk, air dan angin mengambil alih kekuasaan yang ditinggalkan cahaya, gemeretak persendiannya terdengar menghantam padang gersang dan mengubahnya menjadi bergenggam lumpur pekat. Merontokkan dedaunan yang semula eksistensinya digunakan untuk menciptakan alunan gemerisik yang menenangkan.
Bumi berubah kian mengerikan.
Aku masih di sini, di atas selapis kasur usang disebuah ruang sederhana. Tempat aku menyembunyikan seonggok asa yang diklaim mahluk lain sebagai ketersesatan. Berbagi sunyi dengan mahluk tampan yang masih tersesat dalam zona pengandaian. Ranah impian.
Butir-butir salju kasat mata membentuk armada kebekuan, menerobos celah-celah kecil tempat persembunyian kami. Mengubah kehangatan menjadi ketidak-hangatan yang teramat sangat. Ku ambil selembar kain buram bersemburat merah, ku selimuti tubuhnya, berharap ia segera menemukan kehangatan yang tak pernah sudi menyapanya dalam dunia nyata.
” koq belum tidur sayang?” ia terjaga, gerakan-gerakan yang coba ku sederhanakan tak cukup menjaga lelapnya.
“ aku belum ngantuk.”
“ tidur dong, udah malem nih.” Tangannya kasar dengan semburat-semburat keletihan yang mengeras, membelai keningku penuh kelembutan, kelembutan yang sama terpancar dari kelam retinanya.
Senyum yang kusuguhkan membuatnya kembali terlelap. Matanya kembali mengatup. Kecamuk yang segera timbul sesaat setelah mendengar kemurnian yang mengalun lewat pita suaranya kembali mengusikku.
Pertemuan kami terjadi tiga tahun silam, bukan lembaran-lembaran adegan romantis yang sering digambarkan penulis roman picisan. Hanya sebuah potongan kisah sederhana yang kemudian menyeret kami ke dalam lembah ketidak-sederhanaan. Ingatanku berkelana, menembus ruang dan waktu........
Mentari menyembul, menyunggingkan senyum keperakan yang sekejap membunuh kepekatan. Aku berlari menembus bilik yang terbuat dari butir-butir embun penusuk kulit, menyusuri jalan setapak. Nyanyian riuh-rendah diutarakan burung-burung kecil kepada ketentraman yang disajikan semesta. Ketentraman yang tidak mereka temukan dalam langkah yang kian ku percepat.
Hampir sampai. Teriakku dalam hati.
Desaku, desa kecil di sudut pulau jawa, hanya terdiri dari beberapa keluarga yang mempertaruhkan masa depannya kepada hamparan kehijauan yang selalu berubah warna setiap empat bulan sekali. Ayahku petani, ibu petani. Beberapa generasi sebelum aku-pun menggantungkan hidupnya pada sekelumit bajak yang merekahkan tanah. Rencana besarku adalah menghancurkan mata rantai tersebut.
Saat inilah puncak masa depanku.
Jalan sempit dan terjal yang kutiti hampir menemui penghujungnya, kuperbesar intensitas langkahku. Berharap benda kotak yang disebut “bus” itu belum beralih dari tempat pemberhentian terakhirnya. Satu-satunya bus yang melintasi keterpencilan desa kami. Satu-satunya bus yang akan membawaku menuju masa depan.
Kemudin, Kepulan asap kehitaman berbondong-bondong melewati pipa berkarat di bagian belakang bus itu. Teriakan mesin tua yang kian menderu-deru menjadi buraq yang akan menemaniku menuju hijrahku yang agung. Dan disana pula kedua bola mata kami bersirobok. Di sudut yang kian tersudutkan di sebuah bus tua yang sederhana.
Ia pria baik, Anton namanya, pertemuan-pertemuan yang terjadi setelah pertemuan pertama terbukti semakin merekatkan kami, tali temali kami dengan si pemilik takdir serasa tak dapat terpatahkan. Pertemuan singkat yang sederhana. Dentang waktu yang berderap-derap beberapa kali menyadarkan kami bahwa kami berbeda. Kami mengagumi falsafah lama, perbedaan menyatukan kami.
Kami bahagia. Tetapi cawan suci yang selalu kami isi dengan tetes demi tetes suka cita yang akan kami reguk dihari esok mulai retak, arogansi dunia berusaha memecahkannya. Kami tersudut, tanpa tahu apa yang akan kami jelang di hari esok. Kami terdampar di sini, di sudut pembaringan pilu, dimana hanya aku dan dia yang menikmati cinta murni yang selalu dihujat, dan diperolokan sebagai cinta yang tak layak. Tanpa ayah tanpa bunda tanpa saudara. Hanya aku hanya dia.
***
Molekul-molekul keperakkan menumbuk mataku, memaksanya terbuka, menghantam alam bawah sadar yang entah sudah berapa lama ku jelang. Dari celah mungil di bawah selembar pintu papan, aku menyaksikan secercah cahaya melahap kelam.
Fajar, gumamku dalam hati.
Aku bangkit. Gemeretak tulang rawan mengiringi kebangkitanku, meluruhkan sisa peluh yang sekian lama menggelayutinya. Sepasang jendela masih asik diperaduannya, ku hancurkan kemesraan mereka, ku sibak dan kupisahkan kebersamaan mereka.
Badai telah berlalu. Peri kecil yang berkicau memimpin sebuah resital kedamaian yang diramaikan oleh gemerisik dedaunan, denting embun yang menghantam tanah, serta semilir butir cahaya yang menyejukkan. Gelombang kelam benar-benar telah pergi.
Kemudian, mataku menangkap sebuah bayang semu yang tampak tengah melingkar di sudut ruang rahasiaku.
“ bangun sayang, udah pagi.” Kecupanku hangat, mendarat tepat dikeningnya. Ranjau kenikmatan yang mampu menghacurkan mimpi terindahnya. Ia menggeliat, gemualai terindah yang segera dilahap penglihatanku.
“ jam berapa ?” jejak-jejak yang dipijaknya dalam dunia mimpi membekas dalam keruhnya nada yang terlontar dari mulut mungilnya.
“ baru jam 7”
Kepekatan yang melingkar membentuk sebuah garis imajiner di sekitar matanya, membawaku kembali pada malam-malamnya. Malam ketika Ia terjaga menjaga mimpinya yang sekarat, mimpi kami.
“ tadi malem tidur jam berapa? Aku bangun malem-malem koq kamu belum tidur, ga bisa tidur lagi ya?” ku belai pipinya, ia tersenyum lembut.
“ tidur lagi ya sayang.”
Ia kembali terpejam. Ku biarkan Ia mereguk setetes lagi kebahagiaan dalam dunia fananya.
Ya, tidurlah sayang.
Aku mengiringinya menuju lelap.
Di luar sana, badai telah mengucapkan selamat tinggal yang menderu-deru, kembali berlari diiringi kepekatan. Tetapi di dalam sini, penderitaan masih menunjukan eksistensinya, mengendap dan berubah menjadi kerak kehitaman yang berlumur darah, tak tergusur oleh gemuruh badai. Karena norma.
Kami para terdakwa yang diklaim hakim-hakim gadungan sebagai penggerus norma kesusilaan. Pelancong batas kenormalan. Mereka membantai hak-hak kami meregguk kebahagiaan yang semula tercipta karena keberadaan kami sendiri. Mereka memburu kami, dengan tatapan mencemooh, dengan cibiran yang sudah tak terpetakan lagi. Kami terasing. Bilik inilah dunia kami, sepetak dunia yang sanggup mengabaikan hukum-hukum ambigu yang akan menjerat kami ke tiang gantungan.
Aku tak peduli, dia tak peduli, kami tak peduli !
Aku memiliki hatinya sebagai tempat berpijak terindah, dia memiliki mata, tangan, kaki, teling dan seluruh inderaku yang akan kurubah menjadi armada pembangun senyumnya. Kami saling memiliki.
Biarkan dunia mengecam kebahagiaan kami. Apa yang salah dengan kami? Kami salin mencintai. Sang Cahaya menciptakan dua klan berbeda, pria dan wanita. Dua zat berbeda membentuk dua jenis mahluk yang berbeda pula. Ditakdirkan untuk saling melengkapi. Saling mencintai. Cinta yang akan membawa kedamaian kepada seluruh detak yang akan terus berderap. Tidak demikian dengan cinta kami yang terpenjara dan terkucilkan sempitnya makna bahagia yang mereka canangkan. Hanya karena ia pria dan akau juga pria.
Tidurlah sayang, biarkan aku yang menjadi pemimpin pasukan penjaga dunia fanamu.